
King dan Sahlan sibuk mengatur segala sesuatu untuk persiapan buat konten yang nantinya diposting di media sosial (medsos).
“Jangan mikir kelamaan. Ntar pusing sendiri,” Sahlan menepuk bahu King.
“Siap bro. Habis apaan, ya, konten kita kali ini,” kata King sambil memanggil timnya.
Dingin masih memayungi di sekitar villa milik keluarga Sahlan, di Lembang, Jawa Barat.
“Gue ada ide. Gimana kalo kontennya soal korupsi,” Sahlan mendekati King.
“Brilian. Keren. Setuju, apalagi kasus maling duit rakyat ini, ga ada habisnya. Malah tambah banyak yang korup,” King semangat. Wajahnya keras, geram dengan “tikus-tikus berdasi” yang rakus doyan rampok uang rakyat.
“Sekarang gue yang sutradaranya, ya. Lo ikutin apa kata gue aja. Skenarionya gua yang atur,” ujar Sahlan.
“Siap komandan,” King senyum.
“Skenarionya, lo jadi seorang ayah dan gue jadi anaknya, namanya Atar,” jelas Sahlan.
Kameramen dan kru lainnya dari KingSlan (King dan Sahlan), akun medsos milik King dan Sahlan, sudah ready untuk syuting.
“Roll camera. Action!” Sahlan memberi aba-aba untuk mulai syuting.
“Tiap hari ayah membaca dan melihat berita di media massa. Ya, di koran, di tv, juga di media online. Sedih, mau diapakan dan jadi apa negeri ini,” ujar ayah.
“Berita apa, Yah,” Atar anak tunggal, merespon keluhan ayahnya.
“Itu para koruptor, bukannya makin dikit, eh, malahan tambah banyak yang curi uang rakyat,” jawab ayah sambil melirik ke anaknya yang siap-siap berangkat kuliah.
“Oh, itu. Begitulah adanya. Nanti aku dan kawan-kawan yang benahinya, Yah. Oke aku mau ke kampus dulu, nih,” jawab Atar semangat sambil cium tangan ayahnya, lalu ke halaman rumah, menaiki sepeda motor bututnya. Wushh…ngacir ke Kampus Sembilan.
Rakyat sudah muak memang melihat kinerja oknum pejabat yang cenderung korupsi saat menjalankan tugasnya.
Namun, tenanglah, karena masih ada asa agar negeri ini bebas dari para koruptor.
“Ayah hanya bisa berdoa, Nak. Semoga tekadmu bersama kawan-kawanmu berhasil,” harap ayah sambil memandangi anaknya yang memacu motornya di pagi hari.
“Teruslah berjuang dan berdoa, Nak. Karena tak ada doa yang tidak dikabulkan oleh Allah SWT,” ayah mengangkat kedua tangannya.
Doa akan dikabulkan sesuai kehendak-Nya. Jangan putus asa ketika doa itu belum dijawab oleh-Nya.
Suatu saat kelak, negeri ini akan bebas dari korupsi, dibawah pemimpin yang rendah hati dan mementingkan rakyatnya.
Wahai para pemimpin, janganlah berpikir apa yang hanya dipikirkannya, tapi pemimpin harus merasakan apa yang dirasakan oleh rakyatnya…
“Ok, bungkus!” seru Sahlan sambil merangkul King dan kru KingSlan. The end.
(iz)


Komentar